Oleh: timhumas | 06/11/2017

Raihlah cita-citamu nak, setinggi langit. 

Anaku tercinta……………………………
Enam tahun sudah waktu berlalu………….

Tak terasa banyak sekali hal yang telah kita lalui…………

Senang, sedih, suka dan duka terangkai dalam satu cerita yang indah dan penuh kesan…………

Anaku tercinta…..

Jika kita menoleh kebelakang………

Ada tawa ria disana, ada tangis sedih disana, ada berjuta asa

Silih berganti singgah menghantarkan langkah yang kita jalani bersama

Anaku tercinta…..

Hari berlalu, tahunpun berganti sudah….

Guru-guru mengajarmu, mendidikmu, menasehatimu, menumpahkan segala kasih dan ssyang, dengan tulus ikhlas, tanpa kenal letih dan lelah…..

Anaku tercinta……

Kini, diantara tembok tembok bisu sekolahmu, diantara semilir angin, hijaunya dedaunan, dan bunga-bunga indah ditaman, kami ingatkan kepadamu, kejarlah semua mimpi-mimpi indahmu, raihlah cita-cita luhurmu, larilah menyongsong masa depanmu, teguhlah pada pendirianmu, jangan putus asa menjalani sisa hidupmu, belajarlah keras tuk mendapatkan sempurnanya ilmu….

Janganlah menangis ketika bersedih, janganlah meradang ketika terluka, janganlah putus asa ketika tak terlaksana, sebab hidup adalah perjuangan, dan kita harus berusaha keras untuk memperoleh kemenangan.

Anaku tercinta…..

Kehidupan terus mengalir, tanpa pernah manusia bisa membendungnya, ada timur ada barat, ada siang ada malam, ada kecil ada besar, ada kehidupan ada kematian, ada pertemuan tentulah akan ada perpisahan.

Enam tahun yang lalu, gerak lincah tubuhmu, dan senyum polos bibirmu, datang ke Baiturrahman berharap dengan segenap jiwa ragamu, dengan tekad dan semangat bajamu meminta kami mendidikmu dengan cinta dan kasih sayang yang tulus. Kami berikan cinta itu, kami berikan kasih itu, dengan harapan kelak engkau akan menjadi manusia yang berilmu tinggi, berakhlak mulia, dan menjadi insan yang taqwa.

Anaku tercinta…….

Selamat melanjutkan langkah hidupmu, selamat mengejar cita-citamu, cinta kasih kami mengiringimu, do’a tulus kami menyertaimu, selamat jalan sayang, selamat berpisah, sayo nara untuk anak-anakku. Semoga kelak dapat berkumpul di syurgaNya yg tiada perpisahan

Disadur dari : Sdit baiturohman, untuk anakku tercinta. Mbak refa. 👍👍❤️❤️

Oleh: timhumas | 04/23/2012

Ampunan dan Afiat

Diriwayatkan dari Abbas bin Abdul Muthalib RA, ia berkata, “Aku memohon kepada Rasulullah SAW. “Ajarilah kepadaku sesuatu yang digunakan untuk berdoa kepada Allah.” Maka, beliau menjawab, “Wahai Abbas, pa man Rasulullah SAW, min talah kepada Allah afiah (keafiatan) di dunia dan akhirat.” (HR Tirmidzi).
Dalam hadis lain yang diriwayatkan Ibnu Umar RA bahwa Nabi SAW bersabda, “Tiadalah suatu yang diminta seorang hamba dari Allah yang lebih dicintai daripada meminta afiah.” (HR Tirmidzi). Dalam kitab Al-Hishnul.
Hashiin, al-Jazari berkata, doa Rasulullah SAW untuk meminta afiat merupakan hadist mutawatir, baik lafaz maupun maknanya, yang datang kepada kita melalui 50 jalan.
“Mohonlah ampunan dan afiat kepada Allah karena seseorang tidaklah diberi sesuatu yang lebih baik setelah keimanan dari afiat.”
Afiat adalah dukungan Allah yang diberikan kepada hamba-Nya untuk bisa menunaikan perintah-Nya, menerima qadha dan qadar-Nya dengan rida dan berserah diri.
Dukungan Ilahi ini bisa berupa kesehatan jasmani dan rohani, rezeki halal, taufik, dan hidayah Allah. Orang yang meminta afiat berarti meminta dukungan atas apa yang niat dikerjakannya. Doa ini merupakan bekal untuk menolak bahaya dan menarik semua kebajikan.
Ibnu al-Jauzi mengatakan, orang yang berbahagia adalah orang yang merendah di hadapan Allah dan selalu memohon afiat. Karena, afiat tidak akan diberikan tanpa ujian.
Seorang yang berakal akan selalu meminta afiat untuk mengalahkan semua ujian dalam semua situasi dan kondisi. Dan, kita memerlukan kesabaran untuk menghadapi ujian sekecil apa pun. Seseorang tidak akan mencapai rida Allah tanpa ujian.
Sabar hakiki akan terwujud saat kita menerima semua takdir Ilahi. Dan, ketentuan Ilahi jarang yang datang seirama dengan keinginan nafsu kita. Orang cerdas adalah yang mampu menguasai nafsunya melalui kesabaran yang dijanjikan berpahala besar.
Al-Manawi mengatakan, maksud hadis “Mohonlah ampunan dan afiat” adalah larangan untuk meminta bala dan ujian. Ampunan adalah peng hapusan dosa, sedangkan afiat adalah keselamatan dari sakit dan bala. Afiat itu mencakup di dunia dan akhirat. Karena kesalehan seorang hamba tidak akan sempurna kecuali dengan ampunan dan keimanan yang meyakinkan. Keimanan ini yang mampu menolak siksa akhirat. Sedangkan, afiat menolak penyakit dunia yang ada dalam hati ataupun di badan.
Oleh karena keafiatan di dunia merupakan nikmat Allah yang besar, orang yang mendapatkannya wajib menjaganya dan melindunginya dari hal-hal yang merusak. Dalam hal perintah doa afiat kepada Abbas yang dianggap sebagai orang tuanya, terdapat dorongan kepada kita agar membiasakan diri untuk memohon afiat kepada Allah.
Al-Mubarokfuri berkata, “Perintah Rasul SAW kepada Abbas untuk memohon keafiatan merupakan dalil tegas bahwa memohon keafiatan adalah doa yang tiada tandingannya bila dibandingkan doa-doa lain. ■

by : Prof. DR. KH. Achmad Satori.

Older Posts »

Kategori