Oleh: timhumas | 11/10/2011

Destination Idol Komodo: Beyond Voting

oleh : Amaliamaulana

Surat terbuka untuk Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ibu Mari Elka Pangestu

Dear Ibu Mari,

Pertama-tama, selamat ya Bu atas amanah baru di pundak Ibu. Semoga Ibu Marie berhasil menjadi agent of change di lembaga kepariwisataan kita nanti.

Sudah lama saya ingin melihat perubahan di dunia pariwisata kita, terutama dari sisi brandingnya. Jika kita melihat di Negara-negara tetangga, pariwisata bahkan sudah bisa menghidupi masyarakatnya. Mengapa dengan modal warisan budaya dan alam yang demikian luar biasa, kita masih tertinggal?

Surat ini saya layangkan ke Ibu seputar issue Komodo dan dinamika voting untuk menjadikannya tujuh keajaiban dunia. Tampaknya masalah yang berkembang sudah terlalu jauh dari esensinya.

Kalaupun vote sudah kita dapatkan dan kemudian Komodo masuk menjadi salah satu ‘idol’ keajaiban dunia, so what? what’s next? Daftar pertanyaan saya masih panjang.

Jangan sampai nasibnya sama seperti penyanyi pemenang kontes-kontes Idol yang setelah acara penganugerahan,  lalu kembali menyanyi di panggung-panggung pinggiran yang tidak penting. Masa popularitas habis, dan audience yang semula ikut voting sudah tidak ada yang peduli lagi.

Mereka hanyalah obyek gebyar acara. Yang menjadikan peserta penyanyi penting adalah pada saat acara berlangsung saja. Jika perlu panitianya menciptakan drama-drama sepanjang progam, untuk konsumi audience yang suka sinetron, agar program tetap menarik untuk ditonton. Panitia fokus pada keberhasilan Program Acaranya, tetapi bukan secara tulus ingin membina setiap penyanyi pemenang. Memastikan agar Post-Idol mereka tetap mendapat tempat di dunia musik.

Jangan sampai Komodo juga menjadi obyek gebyar acara Destination Idol belaka. Karena jika demikian, maka kita hanya membantu kesuksesan acara Idolnya, tetapi tetap tidak siap dengan pembinaan brand pemenang nya nanti. Kasihan Komodo jika nanti mengalami Post-Idol syndrome. Pemenang Idol yang hanya punya panggung pinggiran.

Branding bukan ajang popularitas saja. Karena popular akan menghasilkan awareness, tetapi belum ada jaminan keberhasilan sebagai destination brand. Bagaimana dengan pemahaman tentang Komodo? Bagaimana dengan tingkat kesukaan dan minat terhadapnya? Tanpa diikuti dengan pembinaan yang menitikberatkan pada pemahaman tentang seperti apa Komodo, dan penjelasan yang kongkrit tentang apa benefit yang akan diperoleh dengan berkunjung ke sana, maka semua ini akan menjadi ajang pencarian bakat dan popularitas semata.

Dear Ibu Mari,

Semoga Komodo nanti menang votingnya sehingga Ibu bisa ikut hadir dalam acara penganugerahan awardnya. Harapan saya, jadikanlah acara itu sebagai “Ground-Zero” – menjadi titik awal dari pembinaan brand pemenang Destination Idol ini.

Dalam strategi komunikasi modern, dikenal Zero-based IMC (Integrated Marketing Communication). Kita mulai dari nol lagi. Mencoba mengerti seperti apa keinginan target audience, dengan memperhitungkan pada titik ini, sudah sejauh apa brand performance.

Intinya, Start Fresh, Bu! Biaya komunikasi semakin mahal. Tanpa pemahaman yang mendasar tentang situasi audience dan brand performance, maka setengah dari kegiatan marcom yang akan dibuat bisa jadi merupakan gambling. Errornya sangat tinggi, menjadi pemborosan negara.

Beberapa aspek yang perlu diperhatikan diantaranya adalah

– Consumer Insights

Sangat kritikal untuk melakukan studi mencari insights tentang segmen mana yang bakal menjadi sasaran utama dalam destination branding. Ini bukan tentang demografi konsumen. Kita sebaiknya tidak lagi bicara apakah mereka turis asing atau lokal, dari usia berapa dan income berapa. Tetapi tourist dengan needs seperti apa yang paling cocok untuk kita undang datang? Yang bisa langsung tergerak hatinya dan kakinya untuk berangkat ke lokasi?

– Stakeholders Insights

Tidak hanya konsumen yang penting. Kita juga harus memahami dan mengerti needs para stakeholder Komodo lainnya, seperti pengelola kawasan destinasi, pemerintah daerah setempat, travel agent di dalam dan di luar negeri, opinion leader, blogger, pihak transportasi akomodasi, dst.

Road map atau peta perjalanan brand menjadi brand solid harus dibuat atas dasar pemahaman yang komplit. Sehingga semua pihak yang berkepentingan mengerti peranan masing-masing dan paham koridor jalan menuju ujung dari cita-cita brand.

– Intangible benefit

Dalam destination branding, kita menjual dua hal yaitu produk+services. Ini yang membuat pekerjaan makin kompleks, karena services erat dengan intangible benefit.

Mengkomunikasikan intangible benefit (yang tidak kasat mata, yang hanya bisa dirasakan) lebih sulit dibandingkan tangible benefit (yang kasat mata).

Intangible benefit pada destination branding menitikberatkan kepada benefit ‘experience’. Dan experience sebagai output sangat bervariasi, tidak bisa digeneralisasi.

Sebagai ilustrasi, sebuah city park adalah sebuah oasis yang penuh ketenangan bagi pencinta olahraga yoga. Tetapi sekaligus juga merupakan sebuah lokasi tempat berkumpul dan bersorak-sorai bagi kelompok penyelenggara reuni sekolah. Ini adalah dua experience yang berbeda.

Target audience dengan experience seperti apa yang kita harapkan untuk Pulau Komodo? Sudahkah kita buat prioritasnya? Agar experience sebagai intangible benefitnya bisa dikomunikasikan secara lebih kontekstual.

Dear Ibu Mari,

Ground-Zero sudah dekat. Semua orang tentu mendoakan Komodo menang. Pak Jusuf Kalla sudah berbuat banyak tentang yang satu ini.

Tetapi doa saya beyond voting, Bu. Semoga Komodo mempunyai para agent of change yang siap untuk review ulang keberhasilannya di Ground-Zero dan membuat planning ke depan secara lebih tajam, terstruktur dan mendasar.

Branding is a process. Dan jika prosesnya benar, semoga destination brand ini akan sampai ke tujuannya dengan baik, dalam waktu singkat.

Pak JK belum cukup. Ibu adalah andalan saya untuk menjadi the next agent of change for Komodo.

sumber : http://amaliamaulana.com/branding/destination-idol-komodo-beyond-voting/?utm_medium=twitter&utm_source=twitterfeed


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: