Artikel

Kurkumin Berpotensi untuk Dikembangkan Sebagai Bahan Pengatur Kesuburan

Kurkumin adalah senyawa utama yang terkandung dalam kunyit (Curcuma longa, L) yang telah dapat disintesis dan teruji aktivitas biologisnya. Sebagai senyawa utama dalam rimpang kunyit dan dijumpai bersama senyawa demektoksikurkumin dan bisdemetoksikurkurkumin yang campuran dari ketiga senyawa tersebut dikenal dengan kurkuminoid.

Saat ini kurkumin banyak diteliti berkaitan dengan upaya pengkajian sebagai obat antiinflamasi dan antikanker. Adapun Kurkumin dan Pentagamavunon-0 (PGV-0) dilaporkan sebagai inhibitor siklooksigenase-2 (COX-2) yang menghambat biosintesis prostaglandin.

Pengaruh kurkumin terhadap sistem reproduksi mulai dikaji pada sejumlah penelitian awal. Salah satunya dilakukan oleh Dosen Fakultas Kedokteran Universitas YARSI Jakarta, Much. Restu Syamsul Hadi. Dalam ujian terbuka Promosi Doktor di Fakultas Kedokteran (FK) UGM, Sabtu (21/2), Syamsul menjelaskan seberapa jauh mekanisme aktivitas Kurkumin dan Pentagamavunon-0 (PGV-0) terhadap steroidogenesis dan apoptosis pada kultur sel luteal.

Dalam mempertahankan hasil Disertasi di hadapan tim penguji yang diketuai Prof. Dr. Gufron Mukti Ali, Ph.D, didampingi promotor Prof. dr. Sri Kadarsih M.Sc Ph.D, ko-promotor Prof. dr. Soedjono Aswin, Ph.D, Prof. dr. Djaswadi Dasuki, SpOG(K), MPH, Ph.D, dari hasil penelitiannya ia menyebutkan mekanisme kurkumin dan PGV-0 terhadap steroidogenesis pada sel luteal dapat menghambat stimulasi produksi hormon Progesteron (P4) oleh Luteinizing Hormone (LH) pada fase luteal awal melalui efek sebagai antigonadotropik.

“Kemampuan kurkumin menghambat produksi P4 lebih kuat dari pada PGV-0. Kurkumin dan PGV-0 memiliki aktivitas sebagai proapoptosis pada sel luteal dengan cara menurunkan hambatan apoptosis oleh LH tergantung dosis,” ujar lulusan Fakultas Biologi tahun 1993 ini.

Bapak tiga anak kelahiran Kebumen, 21 November 1968 ini mengungkapkan, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut secara lebih spesifik untuk mengembangkan kurkumin sebagai antifertilitas. Semnetara untuk PGV-0 yang merupakan senyawa analog kurkumin selain dapat sebagai antifertilitas dapat juga dikembangkan sebagai zat penyubur tergantung besar dosis dan waktu pemberiannya mengingat sistem reproduksi yang unik dan siklik.

“Kurkumin dan PGV-0 memperlihatkan potensi untuk dikembangkan dalam pengaturan kesuburan,” jelas dosen bagaian anatomi ini.

Menurutnya, penelitian ini bisa menjadi acuan penggunaan kurkumin oleh masyarakat umum sebagai obat tradisional yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan sebagai bahan obat alternatif nonsteroid untuk dikembangkan dalam pengaturan fungsi reproduksi. Sementara bagi industri sendiri yang akan mengembangkan kurkumin sebagai obat baru untuk keperluan lain, merupakan masukan akan pentingnya memperhatikan efek samping pada fungsi reproduksi wanita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: