Oleh: timhumas | 08/24/2011

Pernak-pernik menyambut Lebaran :

Meski Sederhana, tetap penuh berkah.

Bagian 1

Lelaki berusia 27 tahun itu mengeluarkan uangnya dari dompet. Dua lembar uang seratus ribuan dia bayarkan ke pemilik toko baju Muslimah di kawasan Monang Maning, Denpasar, Senin (2/8) malam. Walau dompetnya kelihatan lusuh, lembaran rupiah yang dia bayarkan masih gres. Lelaki itu bernama Abadi, asal Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Abadi mengaku baru saja menerima bayaran dari tempat dia bekerja. Dia me nerima Rp 560 ribu sebagai upahnya mengecat dan memelitur rumah untuk kerja selama seminggu. Sudah enam bulan terakhir ini dia bekerja di Bali menjadi pekerja bangunan, spesialisasinya pada finishing rumah, mulai dari memberikan pemutih, mengecat tembok, atau memelitur. Selama enam bulan bekerja, lelaki yang tidak tamat SMA itu boleh dibilang bisa mendapatkan bayaran lumayan. Walau dia dibayar sebagai buruh harian, tapi karena keterampilannya memelitur, dia dibayar setingkat tukang, bukan buruh, mencapai Rp 80 ribu sehari. Uang hasil kerjanya selama ini setiap bulannya dia kirimkan ke kampung halamannya. Tidak seperti pekerja lainnya yang sudah lama menetap di Bali, Abadi tidak membawa serta istri dan anaknya. Untuk menyambut Lebaran, dia pun kemarin membelikan baju Muslimah untuk putrinya yang baru duduk di kelas 1 SMP. Dari uang yang dibayarkannya Rp 200 ribu, Abadi menerima kembalian Rp 16 ribu. “Saya tidak bisa memilih oleh-oleh yang pas untuk putri saya dibawa mudik, semoga ukurannya juga pas. Untuk anak,” katanya sambil melipat tak kresek, kemudian terburu-buru menstater motornya. Setelah membayar baju untuk putrinya, Abadi praktis menyisakan Rp 376 ribu saja dari penghasilannya selama seminggu. Uang sebesar itulah yang akan dibawanya pulang kampung, untuk merayakan Lebaran bersama keluarga. Tapi, untuk sampai ke rumah, Abadi juga harus mengeluarkan biaya, paling tidak membeli bensin dan ongkos menyeberang dari Pelabuhan Gilimanuk, Bali Barat-Ketapang, Banyuwangi.

Tak hanya untuk keluarga Abadi, Lebaran bersahaja juga menjadi milik Islaniar (50 tahun) dan Rohbah (55) yang menjelang Lebaran ini bekerja sebagai buruh usaha dodol milik Hj Zakiyah di Desa Tebinggerinting, Kabupaten Ogan Ilir (OI) Sumatra Selatan (Sumsel). Rohbah yang bekerja sebagai buruh di pabrik gula Cinta Manis milik PTPN VII, sejak pertengahan Ramadhan beralih menjadi buruh dodol Hj Zakiyah. “Kalau bekerja di pabrik gula upah kami Rp 35 ribu sampai Rp 45 ribu per hari. Di sini setiap hari kami bisa dapat Rp 100 ribu,” katanya, Selasa (23/8). Menurut Islaniar, bekerja di usaha Dodol Hj Zakiyah, setiap hari tugas mereka hanya mengaduk dodol di atas tungku. Dua perempuan paruh baya tersebut setiap harinya bekerja sampai 10 jam. Usai shalat Subuh mereka mulai bersiap-siap menghidupkan api tungku. Lalu, mulai mengaduk santan yang sudah disiapkan bersama gula merah dan tepung ketan. Berbeda dengan menjelang Idul Fitri, pada hari biasa mereka bekerja sebagai pengaduk dodol hanya menunggu panggilan Hj Zakiyah. “Hari biasa, pesanan dodol jika ada orang yang akan pernikahan. Itu pun jumlahnya tidak banyak, antara dua atau tiga kuali dalam sepekan dan tidak setiap pekan ada pesanan.” Rohbah dan Islaniar mengaku, bagi mereka yang tinggal di desa jauh dari Kota Palembang, Ramadhan dan Idul Fitri menjadi bulan yang memberi berkah. Menjelang Idul Fitri maka musim membuat dodol pun tiba. Itu berarti dodol Desa Tebingge rinting akan menjadi kue Lebaran bagi pembelinya yang berasal dari Palembang dan Jambi.

Sedangkan bagi Riki yang tinggal di Sumatra Utara, Lebaran justru menjadi saat untuk berhemat. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai kuli bangunan ini menganggap Lebaran menjadi terlalu mahal jika harus dirayakan seperti kebanyakan orang. Dia pun mengaku tidak perlu berlebihan dalam menyambut Lebaran. “Bisa makan se hari-hari dan keperluan lain tertutupi, sudah syukur,” tutur laki-laki berusia 32 tahun, asal Sukaramai, Medan, itu. Dengan gaji Rp 45 ribu per hari, tak banyak yang bisa diperbuat ayah seorang anak itu. Dari penghasilannya, dia hanya bisa membawa pulang Rp 35 ribu, setelah dipotong ongkos. ■

sumber : koran republika tanggal 24 Agustus 2011


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: