Oleh: timhumas | 08/18/2011

Pengabaian Sejarah Islam

Meski berjasa besar dalam perjuangan meraih kemerdekaan, peran Islam dalam sejarah kebangkitan dan kemerdekaan Indonesia dikecilkan.

Ketua Program Studi Pendidikan Islam Pascasarjana Universitas Ibnu Khaldun Bogor Dr Adhian Husaini mengatakan, kejanggalan ini sudah lama terlihat. Buya Hamka, dalam Tafsir al-Azhar, misalnya, menyatakan kecenderungan mengecilkan Is lam itu tak lepas dari strategi misionaris Kristen dan orientalis dalam menyerang Islam. “Hamka, antara lain, mencatat diajarkan secara halus apa yang dinamai nasionalisme dan hendaklah nasionalisme diputuskan dengan Islam. Oleh sebab itu, bangsa Indonesia hendaklah lebih mencintai Gajah Mada daripada Raden Patah. Orang Mesir lebih memuja Fir’aun daripada mengagungkan sejarah Islam,” kata Adhian.

Menurut dia, cobalah tanyakan kepada para pelajar, apakah mereka mengenal Raden Patah, raja Muslim pertama di tanah Jawa? Raden Patah adalah putra Majapahit yang sekaligus santri dari Tumapel.” Tanyakanlah juga kepada para siswa di seko lah-sekolah Islam, apakah mereka mengenal dan mengagumi Sultan Agung yang me ngirimkan para tentaranya dari Yogyakarta ke Jakarta untuuk mengusir penjajah Belanda?”
“Pengecilan ini saya lihat juga ketika bertandang ke kantor kedutaan besar kita yang ada di luar negeri. Kantor kedutaan besar di Inggris, misalnya, tak ada gambar kaligrafi atau Masjid tua Demak. Yang ada, gambar candi Borobudur. Padahal, sebe lum nya duta besarnya sibuk berpidato membanggakan tentang keagungan Islam di Indonesia. Ini jelas hal yang paradoks,” tegas Adian.
Dalam sejarah Indonesia, kini tetap juga dibiarkan gambaran bahwa Islam tidak kondusif bagi ‘pemersatu Indonesia’. Indonesia hanya bisa disatukan bukan dengan Islam, melainkan dengan ideologi lain, apa kah Hinduisme, animisme, atau se kulerisme. Padahal, coba tanyakan ka pan Majapahit benar-benar menyatukan nu santara, wilayahnya sampai di mana, de ngan cara apa Majapahit menyatukan nu san tara? Katanya, Gajah Mada pernah ber sumpah, namanya Sumpah Palapa. Apakah sumpah seseorang bisa dijadikan bukti bahwa dia berhasil mewujudkan sumpahnya?

Sejarawan Belanda Prof CC Berg termasuk sejarawan yang mengkritik upaya pengultusan dan pemitosan kebesaran Majapahit. Ia menulis dalam sebuah artikel di Jurnal Indonesie, Maret 1952, No 5 berjudul “De Sadeng-oorlog en de mythe van Groot- Majapahit” (Perang Sadeng dan Mitos Kebesaran Majapahit). Menurut CC Berg, wilayah Majapahit sejatinya hanya mencakup Jawa Timur dan Madura. Upaya sistematis untuk ‘menyingkirkan’ atau mengecilkan Islam dari sejarah bangsa Indonesia dan sejarah Melayu juga sudah digambarkan oleh pakar sejarah Melayu Prof Syed Muhammad Naquib al-Attas. Dia menyatakan, banyak sarjana yang telah mengatakan bahwa Islam tidak meresap dalam struktur masyarakat Melayu-Indonesia, hanya sedikit jejaknya di atas jasad Melayu. “Peran Islam, laksana pelitur di atas kayu, andaikan dikorek sedikit akan terkelupas menonjolkan kehinduannya, kebudhaannya, dan animismenya. Namun, menurut saya paham demikian itu tidak benar dan hanya berdasarkan wawasan sempit yang kurang dalam dan hanya merupakan angan-angan belaka,” kata al-Attas dalam bukunya, Islam dan Sejarah Kebudayaan Melayu (Mizan 1990, hlm 41). ■

sumber : (Traju) republika online tanggal 18 Agustus 2011


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: