Oleh: timhumas | 03/10/2011

Pendapat BBM by Sunarsip.

Seiring dengan harga minyak dunia yang mempunyai kecenderungan terus meningkat, berikut adalah pendapat bang @sunarsip magayutan BBM :

Seperti diberitakan, pemerintah punya 3 opsi soal BBM terkait dengan penghematan subsidi BBM. Opsi 1 : naikkan BBM sebesar Rp. 500,- per liter. Opsi 2 : Mobil pribadi harus pakai Pertamax atau BBM oktan tinggi. Opsi 3 : batasi mobil pribadi pakai premium dengan kartu kendali. Mana yg OK?. Ke-3 opsi dapat hemat subsidi BBM. Tapi, menurut pendapat bang @sunarsip, opsi 1 : naikkan harga BBM adalah opsi ter-OK. Hanya, naiknya jangan dibatasi Rp500/liter. Kenapa? Kita analisis opsi 2 : mobil pribadi pakai BBM pertamax. Saat ini, konsumsi premium oleh mobil pribadi sekitar 46%. Konsumsi BBM bersubsidi 2010 = 38,6 juta kilo liter. Asumsikan secara kasar premiumnya 60% saja, berarti premium capai sekitar 20 juta kilo liter. Itu artinya, jika harus beralih ke BBM pertamax sekarang, maka setidaknya harus disediakan pertamax dalam jumlah sekitar 5 kali lipat dari konsumsi sekarang. Pertanyaannya : mampukah kita sediakan sekitar 20 juta Kilo Liter BBM Pertamax tersebut? Darimana? Jawaban: kalau supply dalam negeri, pasti tidak bisa. Kenapa nggak cukup? Karena kilang-kilang kita, sebagian besar didesain tidak untuk produksi BBM pertamax, tapi premium. Paling 10% yang bisa hasilkan Pertamax. Karena nggak cukup, maka kita harus impor Pertamax dari negara sekitar. Dan nggak banyak negara yang punya kilang yang bisa hasilkan BBM oktan tinggi. Akibatnya, karena demand terhadap BBM oktan tinggi meningkat, maka harga impor Pertamax akan naik. Terlebih, harga minyak sekarang sedang tinggi. Dengan kata lain, kalau opsi 2 yg diambil, maka ongkos yang ditanggung konsumen akan jauh lebih besar bila dibandingkan opsi 1: naikkan harga BBM. So, opsi kenaikan harga BBM premium adalah yang paling OK. Sementara itu, opsi 3: paling rumit diterapkan dan potensi timbulkan kerawanan. Berapa kira-kira naiknya harga BBM premium yang tepat? Menurut saya : sejatinya, naik Rp500/liter itu terlalu kecil. Kenapa misalnya, tidak Rp1000? Jika BBM naik Rp1000,- tapi seluruh duit kenaikan tersebut dipakai untuk peningkatan kesejahteraan rakyat miskin, itu punya nilai lebih. Misalnya, tapi kriteria orang miskinnya yang harus diperbaiki. Ukuran orang miskin harus dinaikan, misal konsumsi jadi $2 per hari per org. Kalau kriteria orang miskin dinaikkan, maka akan banyak orang miskin yang justru akan bahagia dengan opsi harga BBM ini naik. Why? Sebab, dana hasil kenaikan harga BBM tersebut, akan dioptimalkan untuk mensejahterakan lebih banyak orang miskin (setelah kriteria baru) Indonesia. So, kenapa pemerintah harus ragu mengambil opsi naikkan harga BBM? Menunggu harga minya tembus $130 per barel kayak tahun 2008? Sekian.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: