Oleh: timhumas | 10/25/2010

Menyoal Fundamental Ekonomi Kita

oleh : SUNARSIP

Suka atau tidak suka, adalah benar klaim dari pemerintah bahwa perekonomian kita bergerak tumbuh. Karena faktanya, di tengah krisis ekonomi global, perekonomian kita tetap tumbuh positif. Akan tetapi, suka atau tidak suka, kita juga harus mengakui kebenaran klaim dari pihak di luar pemerintah sana bahwa fundamental ekonomi kita belum kuat. Karena faktanya, pertumbuhan ekonomi yang berhasil kita raih, belum mampu memberikan manfaat maksimal bagi perbaikan ekonomi masyarakat.

Mau bukti? Di tengah krisis ekonomi yang melanda dunia, khususnya di Amerika Serikat, Eropa, Jepang, dan sejumlah negara Asia lainnya, ekonomi kita mampu tumbuh positif. Pada 2008 dan 2009, ekonomi kita masing-masing tumbuh 6,1 persen dan 4,6 persen. Pada kuartal I dan II 2010 ini, ekonomi kita tumbuh masing-masing 5,69 persen dan 6,17 persen.

Selain itu, indikator makro ekonomi lainnya juga bagus, seperti inflasi yang relatif rendah, yang berarti kita cukup mampu melindungi warga miskin kita dari erosi kesejahteraan akibat kenaikan harga-harga. Namun, apakah capaian ini (termasuk capaian positif lainnya) cukup menyakinkan bahwa fundamental ekonomi kita kuat? Untuk menjawabnya, mari kita cermati data-data dari sumber pertumbuhan ekonomi kita.

Pascakrisis ekonomi 1997/1998, sejatinya daya dorong pertumbuhan ekonomi kita sudah semakin lemah, seperti ditunjukkan oleh kinerja pertumbuhan ekonomi kita yang kurang dari tujuh persen. Bahkan, sebuah studi menunjukkan bahwa bila tidak ada perubahan struktural dalam perekonomian, dalam panjang ekonomi kita maksimal hanya mampu tumbuh rata-rata enam persen. Penyebabnya, mesin-mesin pertumbuhan ekonomi di era sebelum krisis, kini sudah banyak yang lumpuh.

Kalau kita cermati, sektor-sektor ekonomi yang dulu menjadi primadona dalam kontribusinya terhadap perekonomian, kini pascakrisis 1997/1998 kinerjanya rendah sekali. Sektor manufaktur yang pada era sebelum krisis mampu tumbuh di atas 10 persen, kini pertumbuhannya justru di bawah pertumbuhan nasional. Sektor pertanian, yang sejak dulu pertumbuhannya di bawah pertumbuhan nasional, kontribusinya kini semakin kecil. Padahal, jumlah penduduk yang hidup di sektor ini masih tinggi. Di sisi lain, pertumbuhan sektor manufaktur terlalu lambat sehingga penyerapan tenaga kerja di sektor ini relatif kecil.

Kalau demikian keadaannya, lalu di mana logikanya ekonomi kita bisa bertahan dan tumbuh positif di tengah badai krisis ekonomi global saat ini? Jawabannya, sederhana.
Pertama, production network kita dengan luar negeri masih rendah. Pada 2000, kontribusi ekspor terhadap PDB sebesar 41 persen. Namun, kontribusi ekspor terhadap PDB pada akhir 2009 hanya tinggal 24 persen. Bandingkan dengan negara-negara lain, yang kontribusi ekspornya terhadap PDB bisa mencapai di atas seratus persen, seperti yang dimiliki Singapura, Hong Kong, dan Malaysia.

Kedua, penopang ekonomi kita adalah sektor konsumsi. Kontribusi konsumsi terhadap PDB kita mencapai 56,7 persen pada kuartal II 2010. Kombinasi dari rendahnya production network dan ketergantungan pada sektor konsumsi inilah yang menyelamatkan ekonomi kita dari tekanan krisis ekonomi global. Pertanyaannya, baikkah struktur ekonomi seperti ini dalam jangka panjang? Jawabannya, tentu tidak. Mengapa?

Konsumen kita umumnya bukanlah tipe konsumen yang selektif terhadap kualitas produk. Itulah sebabnya, impor barang konsumsi kita sangat tinggi. Namun, korbannya adalah industri domestik seperti yang kita saksikan dan rasakan dampaknya saat ini. Ketergantungan ekonomi pada konsumsi domestik sejatinya juga tidak bisa terus-menerus, meskipun tetap perlu dijaga. Sebab, kalau kita cermati, pertumbuhan konsumsi kita sejatinya terbatas.

Dalam sembilan tahun terakhir ini, pertumbuhan sektor konsumsi tidak pernah tumbuh di atas lima persen, kecuali pada 2008 yang tumbuh 5,3 persen. Mengingat pertumbuhan jumlah penduduk usia produktif di Indonesia begitu besar, sementara konsumsi hanya tumbuh kurang dari lima persen, itu artinya daya dorong sektor konsumsi sebenarnya terbatas karena daya beli masyarakat yang terbatas pula.

Melihat fakta itu, mau tidak mau kita perlu menata kembali sisi production network kita di luar negeri. Itu berarti, sekalipun kita tetap perlu menjaga pasar domestik, orientasi ekspor harus kembali digalakkan. Pertanyaannya: bagaimana kondisi ekspor kita saat ini? Kinerja ekspor kita sejatinya memiliki kecenderungan meningkat. Namun, di balik peningkatan ekspor tersebut sejatinya juga mengindikasikan adanya sejumlah kekurangan.

Ekspor kita yang tinggi bukanlah ditopang oleh keunggulan kompetitif dari produk ekspor kita. Ekspor kita umumnya ditopang oleh keunggulan komparatif yang kita miliki (berasal sumber daya alam dengan derajat pengolahan yang rendah). Faktor harga juga turut menentukan pertumbuhan ekspor kita. Itulah mengapa kinerja ekspor kita sangat sensitif terhadap faktor harga internasional.

Indonesia sejatinya memiliki produk-produk unggulan yang disegani di luar negeri. Kita adalah produsen CPO terbesar di dunia. Kakao dan timah kita adalah terbesar kedua di dunia. Indonesia juga memiliki sumber nikel, batubara, dan emas yang besar (10 besar dunia). Namun, potensi itu belum menjadikan kita sebagai market leader untuk produk-produk tersebut. Mengapa? Karena, kita tidak bisa menentukan sendiri harga atas produk-produk unggulan yang kita miliki.

CPO yang kita ekspor masih minim sentuhan olahan pabrikan Indonesia karena industri hilirnya justru berkembang di luar negeri. Pelabuhan yang dipakai untuk mengekspor produk kita bukanlah pelabuhan Indonesia, melainkan Malaysia dan Singapura. Akibatnya, nilai tambah dari produk-produk unggulan kita bagi Indonesia relatif kecil. Indonesia juga produsen minyak mentah (sekalipun sekarang net importir). Namun, yang menikmati nilai tambah tertinggi dari keberadaan minyak justru Singapura yang tidak memiliki minyak. Mengapa? Karena Singapura memiliki kilang minyak terbesar di Asia Pasifik, kedua terbesar di dunia setelah Rotterdam, Belanda.

Dengan berbagai kondisi di atas, apakah kita bisa dengan lega untuk menyebut bahwa fundamental ekonomi kita saat ini kuat? Silakan jawabannya temukan dalam lubuk hati kita yang paling dalam. Yang jelas, sebagai warga negara yang punya obsesi tinggi terhadap masa depan bangsa ini, tentu kita tidak ingin berlama-lama berada dalam kondisi seperti saat ini. Kemajuan yang lebih cepat perlu dilakukan karena modal yang kita miliki cukup untuk mencapai hal itu.

Banyak hal yang perlu dilakukan. Kuncinya adalah bagaimana seluruh kebijakan bertumpu pada peningkatan daya saing. Kesiapan infrastruktur, reformasi birokrasi, kebijakan perdagangan yang mendukung pengembangan sektor industri dan pertanian, kebijakan sektor industri yang linkage dengan keunggulan komparatif kita, kebijakan fiskal dan moneter yang supported, menjadi kunci bagi suksesnya penguatan daya saing.

Sebab, di sinilah sejatinya sumber bagi terbentuknya kekuatan fundamental ekonomi yang sejati. Dan, bentuk kekuatan fundamental seperti inilah yang bisa memberikan nilai tambah riil, baik bagi peningkatan output maupun terhadap employment.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: