Oleh: timhumas | 10/11/2010

Kasus Orang Kecil dipenjara

Nurani Kapolsek Ciputat Ajun Komisaris Ngisa Anshari terusik. Sebagai polisi, ia harus menjunjung tinggi hukum untuk menyelesaikan tiap kasus kriminal. Hukum tak boleh pandang bulu. Siapa yang bersalah, harus menerima hukuman.

Rasminah

Keadilan Enam Piring dan Sup Buntut

Namun, sebagai manusia, Ngisa tak tega ketika ia harus menjebloskan Rasminah (60 tahun) ke ruang tahanan. Rasminah, si pembantu rumah tangga, dituduh mencuri: enam buah piring makan dan satu plastik berisi bumbu dan bahan makanan untuk membuat sup buntut.

“Sang majikan menuduh Rasminah mencuri barang-barang itu,” ujar Ngisa saat dihubungi, Ahad (10/10).

Ia menjelaskan, Polsek Ciputat sudah sekuat tenaga berupaya agar dugaan kasus pencurian yang dilakukan oleh Rasminah sebulan lalu tersebut diselesaikan secara kekeluargaan. Namun, Siti Aisah, majikan Rasminah sekaligus pelapor, berkeras hati dan menolak saran dari Polsek Ciputat.

“Majikannya itu sangat keras, saran dari kami pun tidak sudi ia dengarkan,” katanya. Saat ini, sidang kasus Rasminah di Pengadilan Negeri Tangerang sudah berjalan tiga kali, sejak akhir September lalu. Sidang selanjutnya akan berlangsung pada Rabu (13/10). Rasmi nah dituduh melanggar Pa sal 362 KUHP tentang pencurian de ngan hukuman penjara maksimal lima tahun. Kasusnya diadukan ke polisi sekitar tiga bulan lalu.

Rasminah sudah membantah kalau ia mencuri seperangkat piring dan bahan sup buntut. Rasminah mengatakan, kalau Aisah sudah memberikan enam piring. Namun, kepada polisi, Rasminah mengaku bahwa ia mengambil sup buntut dari lemari es majikannya.

Sup buntut yang dimaksud masih berupa bahan mentah yang belum diolah. Satu plastik bumbu dapur dan potongan buntut sapi. Aisah baru membeli bahan-bahan di pasar. Menurut Ngisa, barang bukti sup buntut inilah yang menguatkan tuduhan kalau Rasminah mencuri.

Dari kontrakan Rasminah di Gang Damai, RT 03/RW 05, Nomor 12 B, Kampung Sawah Lama, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Polsek Ciputat menemukan keenam piring itu, pakaian bekas, dan bahan sup buntut. Saat ini, Rasminah menghuni sel dingin di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Tangerang.

Astuti (20), anak Rasminah, terus menangis ketika menceritakan kisah ibunya lewat telepon, Ahad (10/10) siang. Rasminah berasal dari Pemalang, Jawa Tengah. Suaminya sudah meninggal 13 tahun lalu. Sepeninggal sang suami, Rasminah membawa Astuti yang baru kelas dua SD mengadu nasib ke Jakarta. Berdua mereka hidup berpindah-pindah. Mata pencaharian Rasminah hanya satu, sebagai pembantu rumah tangga.

Tuduhan bagi Rasminah pun berkembang. Tak cuma mencuri, Aisah menuding kalau Rasminah menjadi tukang tadah atas hilangnya sejumlah uang di rumahnya. Aisah memaksa polisi untuk memeriksa buku tabungan Rasminah. “Untungnya polisi tidak menuruti permintaan itu,” katanya.

Kasus hukum ‘sepele’ yang harusnya bisa diselesaikan secara kekeluargaan terus terjadi. Sebelum kisah Rasminah, sudah muncul kisah Nenek Minah dari Purwokerto, Kab Banyumas, Jawa Tengah, yang dihukum 1,5 bulan penjara, November 2009. Nenek Minah dituduh mencuri tiga butir kakao seharga total Rp 2.100.

Kemudian muncul kasus Suyanto dan Kholil, warga Kelurahan Bujel, Kediri, Jawa Timur yang dipenjara 15 hari gara-gara mencuri semangka.

Lalu muncul kasus dua janda pahlawan, Soetarti Sukarno dan Roesmini, yang digugat ke pengadilan oleh Perum Pegadaian terkait sengketa pemilikan rumah.

Menkumham Patrialis Akbar sempat mengatakan akan membawa masalah seperti ini ke rapat kabinet. Namun, hasil rapat itu entah bagaimana.

liputan : stevy maradona


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: