Oleh: timhumas | 09/29/2010

Tren Sektor Energi Global dan Antisipasinya

oleh Sugiharto

Dinamika sektor energi global terus berubah. Akibat perubahan ini, kegiatan di sektor nonenergi (khususnya industri) dan pola bisnis perusahaan yang bergerak di sektor energi juga berubah.

Berbagai perubahan ini bermula dari situasi yang terjadi di sektor minyak dan gas (migas). Seperti kita ketahui, perkembangan harga minyak cenderung meningkat akibat meningkatnya kebutuhan, sementara kemampuan pasokannya semakin terbatas. Seiring dengan semakin menurunnya kemampuan sisi supply, negara-negara produsen migas pun kini semakin ketat dalam memberikan akses kepada perusahaan-perusahaan asing untuk melakukan eksploitasi sektor migasnya.

Faktanya, negara-negara yang memiliki cadangan migas kini banyak memberikan keistimewaan (privilege) kepada perusahaan migasnya (national oil company/NOC). Berdasarkan data dari PFC Energy, Oil & Gas Journal, BP Statistical Review (2008), bila pada era 1960-an, cadangan migas banyak diberikan aksesnya kepada perusahaan internasional (international oil company/IOC), yaitu sekitar 85%, kini akses terhadap cadangan migas telah sebagian besar diberikan kepada NOC. Kini, hanya sekitar 7 persen cadangan migas suatu negara yang diberikan aksesnya kepada IOC.

Dengan perkembangan di atas, orientasi kebijakan sektor energi kini juga telah mengalami transformasi. Amerika Serikat (AS) sebagai negara konsumen minyak terbesar di dunia, misalnya, selain aktif melakukan ekspansi usaha migas ke negara-negara lain, kini juga giat mengembangkan energi terbarukan (renewable energy). Pada 2009, Presiden AS Barack Obama mengumumkan paket pembiayaan sekitar 945 miliar dolar AS untuk mendorong kegiatan pengembangan energi terbarukan.

Cina yang kini menjadi negara dengan PDB terbesar kedua di dunia, juga terus memperkuat sektor energinya. Cina paham bahwa sebagai negara yang kini tumbuh pesat, tentunya memiliki kebutuhan energi yang besar. Oleh karena itu, Cina pun kini aktif berburu energi keluar negeri, termasuk ke Indonesia dengan memburu batu bara.

Berbagai perkembangan ini, tentunya juga akan mengubah tren sektor energi global ke depan. Berdasarkan skenario Shell (2008), pada 2050, sektor energi global diperkirakan akan mengalami revolusi yang cukup ekstrem. Bila saat ini dominasi minyak sebagai sumber energi masih kuat, pada 2050 nanti posisinya akan digantikan oleh sumber energi lain, yaitu batu bara dan energi terbarukan.

Pola bisnis perusahaan di sektor energi juga mengalami transformasi. Untuk mengantisipasi perkembangan di sektor energi ini, sejumlah perusahaan migas juga tengah melakukan transformasi. Bentuk transformasinya adalah migrasi dari perusahaan minyak dan gas (oil and gas company) menjadi perusahaan energi secara terintegrasi (integrated energy company). Di Indonesia, Pertamina dan Medco diketahui tengah mempersiapkan diri untuk menjadi integrated energy company.

Sehubungan dengan tren sektor energi global di atas, tentunya kita perlu melakukan sejumlah langkah untuk mengantisipasinya, yaitu mulai dari kesiapan kebijakan dan kemampuan perusahaan migas kita. Dari sisi kebijakan, kita perlu mempertegas keberpihakan kita terkait dengan pemanfaatan sektor energinya. Orientasi kebijakan energi yang dulu diarahkan untuk memperkuat penerimaan negara (APBN), harus diubah menjadi kebijakan energi yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, industri nasional melalui penyediaan bahan baku dan energi, serta menciptakan efek berantai (multiplier effect) bagi peningkatan kesejahteraan rakyat dan kapasitas ekonomi nasional.

Kemampuan sektor migas kita kini telah menurun. Indikatornya dapat dilihat dari penemuan cadangan dan produksi migas. Dari sisi produksi, bila pada 1995, produksi minyak kita bisa mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari, kini produksinya tinggal sekitar 960 ribu barel per hari. Sayangnya, hingga kini kita belum dapat menemukan cadangan migas yang dapat diandalkan untuk meningkatkan produksi secara signifikan. Sejatinya, kita memiliki potensi cadangan energi hidrokarbon yang masih cukup besar, khususnya di kawasan timur Indonesia. Namun, akibat kurangnya insentif, kegiatan eksplorasi migas di sana menjadi kurang menarik.

Berbagai fakta terkait dengan situasi sektor migas kita ini tentunya harus menyadarkan kita tentang pentingnya energy security nasional. Kita telah memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun, yang akibat kebijakan energi kita (khususnya migas) yang lebih berorientasi ekspor, telah membantu negara-negara lain, seperti Jepang dan Taiwan menjadi negara industri. Sementara Indonesia, belum bergeming dari posisi sebagai negara berkembang. Tentunya, kita tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama pada saat ini.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menjaga sumber-sumber energi yang masih kita miliki untuk dimanfaatkan secara maksimal bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi dan kemampuan industri nasional, serta memenuhi kebutuhan energi masyarakat. Dengan demikian, ide untuk merevisi undang-undang migas dalam rangka memberikan privilege dalam bentuk domestic allocation, termasuk kepada NOC, menjadi strategis.

Kita juga perlu mempersiapkan NOC kita. NOC kita perlu kuat agar mampu melakukan kegiatan di sektor energi secara maksimal. Kemampuan NOC kita saat ini relatif tertinggal dibandingkan NOC lain. Pertamina sebagai NOC, misalnya, perlu memiliki kemampuan finansial yang kuat untuk dapat melakukan kegiatan usaha migas secara maksimal, termasuk untuk kegiatan akuisisi wilayah migas dalam rangka meningkatkan produksinya. Karena itu, kebijakan dividen yang selama ini dibebankan pada Pertamina, sudah saatnya dilihat kembali, karena terlalu besar sehingga berpotensi mengurangi kemampuan ekspansinya.

Kemampuan kegiatan pengolahan migas kita juga sangat rendah. Infrastruktur pengolahan (refinery) yang kita miliki masih terbatas dan tingkat kompleksitas produk yang dihasilkannya juga masih rendah. Akibatnya, untuk memenuhi kebutuhan BBM domestik dan produk berbasis migas lainnya, kita masih impor. Rendahnya margin keuntungan dan kurangnya insentif telah menyebabkan kegiatan refinery menjadi kurang menarik minat.

Di luar minyak, sejatinya saat ini kita masih memiliki sumber energi hidrokarbon dalam jumlah yang besar, yaitu gas dan batu bara. Saat ini, Indonesia menjadi incaran negara lain, karena memiliki potensi batu bara dalam jumlah yang sangat besar. Tentunya, kita tidak ingin mengulangi kesalahan kebijakan di sektor migas pada masa lalu. Oleh sebab itu, sudah saatnya kita juga perlu memproteksi batu bara kita agar tidak diekspor secara besar-besaran.

Selain energi hidrokarbon, sektor energi terbarukan, seperti biofuels, panas bumi, tenaga surya, dan lain-lain juga perlu dikembangkan. Maka itu, kebijakan pengembangan energi terbarukan yang digagas pemerintah sejak 2005, perlu direvitalisasi. Tak kalah penting, insentif, baik fiskal, moneter, maupun perbankan juga perlu dipersiapkan. Intinya, kebijakan energi ke depan seharusnya merupakan agenda nasional dengan prioritas yang tinggi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: